Pages

▼

Rabu, 29 April 2015

Biografi. Strategi Dakwah Islam, dan Hasil Kebudayaan dari SUNAN KUDUS



A.   Biografi Sunan Kudus dan Strategi Dakwah Islam.
Sunan Kudus atau Syeh Ja'far Shodiq adalah seorang yang tidak hanya merupakan senopati di Kerajaan Demak Bintaro namun juga ahli hukum agama Islam. Pada waktu itu suasana di Kudus banyak terdapat kedholiman. Banyak masyarakat yang suka foya-foya, judi, mabuk-mabukan dll. Hal tersebut membuat Sunan Kudus risau dapatkah orang-orang yang dholim itu disadarkan.Akhirnya melalui dakwah, Sunan Kudus berhasil mengajak mereka memeluk agama Islam.
Sunan Kudus atau Ja’far Shodiq adalah putra dari Raden Usman Haji. Sunan Kudus ahli di dalam ilmu agama, pemerintahan dan kesusasteraan. Tidak heran jika beliau menduduki jabatan-jabatan penting. Di dalam menyebarkan agama islam, beliau menggunakan cara-cara yang sangat bijaksana, melihat situasi dan kondisi masyarakat setempat. Berikut ini strategi dakwah sunan kudus :
1.      Pendekatan struktural dakwah Sunan Kudus
Dalam struktur “Dewan Wali” menurut kitab walisanga karangan Sunan Giri, Sunan Kudus dipercaya sebagai Panglima perang di Kerajaan Demak Bintoro. Sunan Kudus juga dikenal sebagai “eksekutor” ketika terjadi ketetapan hokum atas sebuah masalah yang diputuskan oleh Dewan Walisanga. Hal itu terjadi ketika Syaikh Siti Jenar karena dianggap menyimpang atau membelot dari ajaran walisanga, sehingga dianggap akan menyesatkan umat yang baru saja memeluk Islam. Maka Syeikh Siti Jenar mendapatkan putusan hukuman mati. Eksekutor dalam hukuman ini diserahkan kepada Sunan Kudus. Meskipun pada akhirnya Syaikh Siti Jenar memilih sendiri caranya untuk mati. Strategi dakwah Sunan Kudus yang menggunakan pendekatan struktural yaitu dengan cara mengislamkan penguasa atau ikut terlibat dalam pendirian kekuasan baru, seperti kesultanan Demak dan Cirebon. Sunan Kudus turut terlibat sebagai senopati di Kasultanan Demak.
2.      Pendekatan kultural dakwah Sunan Kudus
Sunan Kudus sejak memulai dakwahnya di Kudus 6 abad yang lalu melalui jalur pendekatan kultural. Beberapa model dakwah Sunan Kudus yang mengedepankan pendekatan cultural akan dijelaskan sebagai berikut ;
·                 Menciptakan ruang budaya
Langkah pertama aksi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus ketika memulai gerakannya adalah membangun masjid. Meskipun pada awalnya dalam bentuk yang sederhana, dalam perspektif budaya Sunan Kudus sebenarnya sudah sadar akan pentingnya ruang budaya dalam melakukan transformasi sosial. Masjid dalam hal ini menjadi smacam nilai simbolik babak baru dalam melakukan transmisi nilai, meski dari segi struktur bentuk masjid masih tetap memperhatikan budaya local yang mirip bangunan pure, tempat ibadah bagi umat Hindu.
Keberadaan masjid Al Aqsha dan menara kudus yang kokoh, tegak dan menjulang tinggi terseut sebagai penanda yang jelas menyiratkan adanya penanda bahwa bangunan kepercayaan lama segera ditinggalkan, beralih kepada kepercayaan baru.namun nilai-nilai lama yang tidak bertentangan denagna islam yan dimiliki oleh Hindu tidak serta merta dihilangkan secara total. Oleh karena itu dalam konstruksi bangunan masjid dan menara tersebut Sunan Kudus tetap memperhatikan dan menghargai pola dan bentuk bangunan yang sebelumnya  sudah ada, yaitu miripatap bangunan pure.
·                 Akulturasi
Pola akulturasi sangat kental dalam strategi dakwah Sunan Kudus, beliau mencoba membawa unsur-unsur budaya baru yang sarat dengan muatan islami, namun tetap mempertahankan unsur-unsur budaya lamayang melekat dalam masyrakat Kudus saat itu.
Jauh sebelum kehadiran islam yang dibawa oleh sunan kudus kebanyakan masyarakat memiliki kepercayaan yang cenderung bertentangan dengan tauhid. Struktur masyarakat dibangun denganm system kasta atau perbedaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat cenderung diskriminatis, tidak adil pada saatt itu. Manifestasi yang suci diwujutkan dalam bentuk arca dan juga binatang-binatang tertentu yang dianggap memiliki nilai sakral. Yang menonjol adalah mempercayai adanya banyak tuhan (politeisme).
Maka ketika sunan kudus membawa ajaran baru dengan agama islam yang menekankan aspek tauhid (monoteisme), jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran masayarakat setempat. Ini merupakan tantangan berat bagi sunan kudus. Maka denganm penuh bijaksana sunan kudus tidak secara frontal menyampaikan ajaran islam tersebut kepada mereka. Akulturasi islam dan budaya lokal adalah salah satu strategi yang ditawarkan oleh sunan kudus. Beberapa bentuk pola alkuturasi budaya lokal yang dekat dengan tradisi hindu dengan nilai-nilai islam dapat dicermati  pada pembahasan berikut :
a.       Berntuk bangunan
Pola alkuturasi budaya local hindu /buda dengan islkam dalam bentuk arsitektur yang paling jelas terdapat pada bangunan menara kudus yang menjadi kebanggaan umat islam. Kalau diperhatikan bentuk menara kudus itu menyerupai bangunan pura di bali atau candi jago peninggalan hindu-budha di malang. Demikian juga ornamen–ornamen yang ada pada menara kudus juga mencerminkan lintas budaya, seperti piringan yang melekat di dinding menara adalah model piringan cina.
Menara kudus yang bentuknya mirip pura, di fungsikan sebagai tempat adzan agar orang-orang bisa mendengarkan bila adzan dikumandangkan.di menara ini juga selalu dibunyikan bedug setiap kali datangnya bulan suci ramadhan, sebagai tanda masuknya ibadah puasa.
Bentuk lain pola alkuturasi juga bisa dilihat pada 8 pancuran/padasan kuno. Tiap–tiap pancuran dihiasi dengan relief arca sebagai ornament penambah estetika. Pancuran wudhu itu mengadopsi ajaran budha, asta sanghika marga yakni 8 jalan utama yang menjadi pegangan umat saat itu dengan merujuk pada 8aspek yang penting dalam kehidupan yakni: pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan keutuhan. Pada ornamen pancuran yang masih otentik tersebut dialih fungsikan untuk bersuci sebelum shalat dilakukan yang hingga sekarang masih ada dan berfungsi dengan baik.
b.      Mangikat sapi di halaman masjid.
Untuk mengait masyarakat sekitar agar tertarik datang masuk ke masjid menara kudus, sunan kudus medatangkan sapi lalu dikat di depan masjid. Dalam kepercayaan mereka sapi adalah binatang yang dihormati, sehingga jarang orang memiliki sapi. Sapi biasanya hanya oleh orang–orang tertentu yaitu pemuka–pemuka mereka. Dengan cara yang seperti itu, orang berbondong–bondong datang ke masjid, yang tujuan awalnya adalah menghampiri sapi yang langka itu. Maka ketika sudah banyak orang yang berkumpul di masjid, sunan kudus menyampaikan wejangan–wejangan ringan terkait dengan ajaran islam.
Yang tak kalah menarik sunan kudus juga melarang jamaahnya untuk menyembelih sapi, meski dalam islam hal itu dihalalkan. Hal ini sebagai wujud strategi menarik simpati masyarakat yang kebanyakan saat itu menganggap binatang sapi sebagai makhluk yang suci. Ternyata apa yang dilakukan oleh sunan kudus benar–benar ampuh, sehingga dalam waktu yang tidak lama islam dapat diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Kudus hingga sekarang warga kudus masih mempertahankan adat tersebut dengan tidak menyembelih sapi pada saat hari raya idul atha. Dengan demikian sunan kudus lebih mengedepankan toleransi dan harmoni dari pada konflik dalam menyiarkan islam.
c.       Mengubah tembang dan cerita ketauhidan
Sunan kudus juga dikenal sebagai penyair dan pengubah cerita rakyat yang berfisi ketauhidan. Buah karyanya adalah lagu gending maskumambang dan mijil. Dalam banyak hal sunan kudus mencoba mewarnai gending atau cerita–cerita tertentu yang semula kering dari nilai islam, diisi dengan semangat ketauhidan.

B.     Hasil Kebudayaan.
a.    Dandangan.
            Dilaksanakan setiap menjelang bulan puasa, berlangsung semacam ”pasar malam” sekitar dua minggu, sambil menunggu kepastian awal Puasa. Hampir semua pedagang kaki lima (PKL) dengan segala macam dagangan berkumpul pada momen itu. Bahkan lengkap dengan hiburan rakyat yang murah meriah bernuansa tradisional. Lokasi Dandangan ditetapkan berlangsung di sekitar Masjid Menara hingga pohon beringin, Jl. Menara Kudus, dan Jl. Madurekso praktis di tutup untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Jl. Sunan Kudus sampai Alun – alun biasanya juga menjadi padat sekali, apalagi dengan kedatangan wisatawan, maka area parkir bus menggunakan Jl. Kyai Telingsing maupun jalan – jalan disekitarnya
b.                  Buka Luwur
            Diadakan setiap tahun, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram ( Assyura ). Buka Luwur adalah upacara tradisional penggantian kain kelambu yang dijadikan penutup makam Sunan Kudus. Upacara ini cukup meriah kendati tidak semeriah Dandangan. Upacara ini ditekankan pada Makam Sunan Kudus dan penggantian kain kelambu penutup makam. Biasanya dalam upacara ini dilengkapi dengan selamatan dan pembacaan tahlil serta do’a. Upacara ini biasanya melibatkan para tokoh – tokoh agama, para sesepuh dan masyarakat sekitar Masjid Menara ini.

c.       Tradisi Muludan
            Diadakan tiap – tiap bulan Maulud yang intinya memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan ini memang menjadi salah satu kegiatan Islam yang sifatnya Internasional, tetapi untuk masyarakat Kudus juga menjadi tradisi.
d.      Bulusan
            Yaitu tradisi yang diadakan tiap tahun, tepatnya tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi ini hampir sama dengan budaya jawa tengah yaitu Kupatan, tempat diadakanya tradisi bulusan adalah desa bulusan yang konon menurut cerita dahulu ada seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus ( Kura – kura ), aneh nya tempat itu sekarang masih banyak Kura – kura yang berkeliaran. Untuk meramaikan tradisi ini biasanya diadakan pasar malam atau bazar.

Sumber : http://deviciptyasari.blogspot.com/2014/01/sunan-kudus-dan-strategi-dakwah-islam.html