A.
Biografi Sunan
Kudus dan Strategi Dakwah Islam.
Sunan Kudus atau Syeh
Ja'far Shodiq adalah seorang yang tidak hanya merupakan senopati di Kerajaan
Demak Bintaro namun juga ahli hukum agama Islam. Pada waktu itu suasana di
Kudus banyak terdapat kedholiman. Banyak masyarakat yang suka foya-foya, judi,
mabuk-mabukan dll. Hal tersebut membuat Sunan Kudus risau dapatkah orang-orang
yang dholim itu disadarkan.Akhirnya melalui dakwah, Sunan Kudus berhasil
mengajak mereka memeluk agama Islam.
Sunan Kudus atau Ja’far
Shodiq adalah putra dari Raden Usman Haji. Sunan Kudus ahli di dalam ilmu
agama, pemerintahan dan kesusasteraan. Tidak heran jika beliau menduduki
jabatan-jabatan penting. Di dalam menyebarkan agama islam, beliau menggunakan
cara-cara yang sangat bijaksana, melihat situasi dan kondisi masyarakat
setempat. Berikut ini strategi dakwah sunan kudus :
1.
Pendekatan struktural dakwah Sunan Kudus
Dalam struktur “Dewan Wali” menurut
kitab walisanga karangan Sunan Giri, Sunan Kudus dipercaya sebagai Panglima
perang di Kerajaan Demak Bintoro. Sunan Kudus juga dikenal sebagai “eksekutor”
ketika terjadi ketetapan hokum atas sebuah masalah yang diputuskan oleh Dewan
Walisanga. Hal itu terjadi ketika Syaikh Siti Jenar karena dianggap menyimpang
atau membelot dari ajaran walisanga, sehingga dianggap akan menyesatkan umat
yang baru saja memeluk Islam. Maka Syeikh Siti Jenar mendapatkan putusan
hukuman mati. Eksekutor dalam hukuman ini diserahkan kepada Sunan Kudus.
Meskipun pada akhirnya Syaikh Siti Jenar memilih sendiri caranya untuk mati. Strategi
dakwah Sunan Kudus yang menggunakan pendekatan struktural yaitu dengan cara
mengislamkan penguasa atau ikut terlibat dalam pendirian kekuasan baru, seperti
kesultanan Demak dan Cirebon. Sunan Kudus turut terlibat sebagai senopati di
Kasultanan Demak.
2.
Pendekatan kultural dakwah Sunan Kudus
Sunan Kudus sejak memulai dakwahnya di Kudus 6 abad yang
lalu melalui jalur pendekatan kultural. Beberapa model dakwah Sunan Kudus yang
mengedepankan pendekatan cultural akan dijelaskan sebagai berikut ;
·
Menciptakan
ruang budaya
Langkah pertama aksi dakwah yang
dilakukan oleh Sunan Kudus ketika memulai gerakannya adalah membangun masjid.
Meskipun pada awalnya dalam bentuk yang sederhana, dalam perspektif budaya
Sunan Kudus sebenarnya sudah sadar akan pentingnya ruang budaya dalam melakukan
transformasi sosial. Masjid dalam hal ini menjadi smacam nilai simbolik babak
baru dalam melakukan transmisi nilai, meski dari segi struktur bentuk masjid
masih tetap memperhatikan budaya local yang mirip bangunan pure, tempat ibadah
bagi umat Hindu.
Keberadaan masjid Al Aqsha dan
menara kudus yang kokoh, tegak dan menjulang tinggi terseut sebagai penanda
yang jelas menyiratkan adanya penanda bahwa bangunan kepercayaan lama segera
ditinggalkan, beralih kepada kepercayaan baru.namun nilai-nilai lama yang tidak
bertentangan denagna islam yan dimiliki oleh Hindu tidak serta merta
dihilangkan secara total. Oleh karena itu dalam konstruksi bangunan masjid dan
menara tersebut Sunan Kudus tetap memperhatikan dan menghargai pola dan bentuk
bangunan yang sebelumnya sudah ada,
yaitu miripatap bangunan pure.
·
Akulturasi
Pola akulturasi sangat kental dalam
strategi dakwah Sunan Kudus, beliau mencoba membawa unsur-unsur budaya baru
yang sarat dengan muatan islami, namun tetap mempertahankan unsur-unsur budaya
lamayang melekat dalam masyrakat Kudus saat itu.
Jauh sebelum kehadiran islam yang dibawa oleh sunan kudus
kebanyakan masyarakat memiliki kepercayaan yang cenderung bertentangan dengan
tauhid. Struktur masyarakat dibangun denganm system kasta atau perbedaan
golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat cenderung diskriminatis, tidak
adil pada saatt itu. Manifestasi yang suci diwujutkan dalam bentuk arca dan
juga binatang-binatang tertentu yang dianggap memiliki nilai sakral. Yang
menonjol adalah mempercayai adanya banyak tuhan (politeisme).
Maka ketika sunan kudus membawa ajaran baru dengan agama
islam yang menekankan aspek tauhid (monoteisme), jelas sangat bertolak belakang
dengan ajaran masayarakat setempat. Ini merupakan tantangan berat bagi sunan
kudus. Maka denganm penuh bijaksana sunan kudus tidak secara frontal
menyampaikan ajaran islam tersebut kepada mereka. Akulturasi islam dan budaya
lokal adalah salah satu strategi yang ditawarkan oleh sunan kudus. Beberapa
bentuk pola alkuturasi budaya lokal yang dekat dengan tradisi hindu dengan
nilai-nilai islam dapat dicermati pada
pembahasan berikut :
a.
Berntuk bangunan
Pola alkuturasi budaya local hindu /buda dengan islkam dalam
bentuk arsitektur yang paling jelas terdapat pada bangunan menara kudus yang
menjadi kebanggaan umat islam. Kalau diperhatikan bentuk menara kudus itu
menyerupai bangunan pura di bali atau candi jago peninggalan hindu-budha di
malang. Demikian juga ornamen–ornamen yang ada pada menara kudus juga
mencerminkan lintas budaya, seperti piringan yang melekat di dinding menara
adalah model piringan cina.
Menara kudus yang bentuknya mirip pura, di fungsikan sebagai
tempat adzan agar orang-orang bisa mendengarkan bila adzan dikumandangkan.di
menara ini juga selalu dibunyikan bedug setiap kali datangnya bulan suci
ramadhan, sebagai tanda masuknya ibadah puasa.
Bentuk lain pola alkuturasi juga bisa dilihat pada 8
pancuran/padasan kuno. Tiap–tiap pancuran dihiasi dengan relief arca sebagai
ornament penambah estetika. Pancuran wudhu itu mengadopsi ajaran budha, asta sanghika marga yakni 8 jalan utama
yang menjadi pegangan umat saat itu dengan merujuk pada 8aspek yang penting
dalam kehidupan yakni: pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya,
usaha, meditasi, dan keutuhan. Pada ornamen pancuran yang masih otentik
tersebut dialih fungsikan untuk bersuci sebelum shalat dilakukan yang hingga
sekarang masih ada dan berfungsi dengan baik.
b.
Mangikat sapi di halaman masjid.
Untuk mengait masyarakat sekitar agar tertarik datang masuk
ke masjid menara kudus, sunan kudus medatangkan sapi lalu dikat di depan
masjid. Dalam kepercayaan mereka sapi adalah binatang yang dihormati, sehingga
jarang orang memiliki sapi. Sapi biasanya hanya oleh orang–orang tertentu yaitu
pemuka–pemuka mereka. Dengan cara yang seperti itu, orang berbondong–bondong
datang ke masjid, yang tujuan awalnya adalah menghampiri sapi yang langka itu.
Maka ketika sudah banyak orang yang berkumpul di masjid, sunan kudus
menyampaikan wejangan–wejangan ringan terkait dengan ajaran islam.
Yang tak kalah menarik sunan kudus juga melarang jamaahnya
untuk menyembelih sapi, meski dalam islam hal itu dihalalkan. Hal ini sebagai
wujud strategi menarik simpati masyarakat yang kebanyakan saat itu menganggap
binatang sapi sebagai makhluk yang suci. Ternyata apa yang dilakukan oleh sunan
kudus benar–benar ampuh, sehingga dalam waktu yang tidak lama islam dapat
diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Kudus hingga sekarang warga
kudus masih mempertahankan adat tersebut dengan tidak menyembelih sapi pada
saat hari raya idul atha. Dengan demikian sunan kudus lebih mengedepankan
toleransi dan harmoni dari pada konflik dalam menyiarkan islam.
c.
Mengubah tembang dan cerita ketauhidan
Sunan kudus juga dikenal sebagai penyair dan pengubah cerita
rakyat yang berfisi ketauhidan. Buah karyanya adalah lagu gending maskumambang
dan mijil. Dalam banyak hal sunan kudus mencoba mewarnai gending atau
cerita–cerita tertentu yang semula kering dari nilai islam, diisi dengan
semangat ketauhidan.
B.
Hasil Kebudayaan.
a. Dandangan.
Dilaksanakan setiap menjelang bulan puasa, berlangsung semacam ”pasar malam” sekitar dua minggu, sambil menunggu kepastian awal Puasa. Hampir semua pedagang kaki lima (PKL) dengan segala macam dagangan berkumpul pada momen itu. Bahkan lengkap dengan hiburan rakyat yang murah meriah bernuansa tradisional. Lokasi Dandangan ditetapkan berlangsung di sekitar Masjid Menara hingga pohon beringin, Jl. Menara Kudus, dan Jl. Madurekso praktis di tutup untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Jl. Sunan Kudus sampai Alun – alun biasanya juga menjadi padat sekali, apalagi dengan kedatangan wisatawan, maka area parkir bus menggunakan Jl. Kyai Telingsing maupun jalan – jalan disekitarnya
Dilaksanakan setiap menjelang bulan puasa, berlangsung semacam ”pasar malam” sekitar dua minggu, sambil menunggu kepastian awal Puasa. Hampir semua pedagang kaki lima (PKL) dengan segala macam dagangan berkumpul pada momen itu. Bahkan lengkap dengan hiburan rakyat yang murah meriah bernuansa tradisional. Lokasi Dandangan ditetapkan berlangsung di sekitar Masjid Menara hingga pohon beringin, Jl. Menara Kudus, dan Jl. Madurekso praktis di tutup untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Jl. Sunan Kudus sampai Alun – alun biasanya juga menjadi padat sekali, apalagi dengan kedatangan wisatawan, maka area parkir bus menggunakan Jl. Kyai Telingsing maupun jalan – jalan disekitarnya
b.
Buka
Luwur
Diadakan setiap tahun, bertepatan
dengan tanggal 10 Muharram ( Assyura ). Buka Luwur adalah upacara tradisional
penggantian kain kelambu yang dijadikan penutup makam Sunan Kudus. Upacara ini
cukup meriah kendati tidak semeriah Dandangan. Upacara ini ditekankan pada
Makam Sunan Kudus dan penggantian kain kelambu penutup makam. Biasanya dalam
upacara ini dilengkapi dengan selamatan dan pembacaan tahlil serta do’a.
Upacara ini biasanya melibatkan para tokoh – tokoh agama, para sesepuh dan
masyarakat sekitar Masjid Menara ini.
c. Tradisi Muludan
Diadakan
tiap – tiap bulan Maulud yang intinya memperingati hari kelahiran Nabi Besar
Muhammad SAW, peringatan ini memang menjadi salah satu kegiatan Islam yang
sifatnya Internasional, tetapi untuk masyarakat Kudus juga menjadi tradisi.
d. Bulusan
Yaitu
tradisi yang diadakan tiap tahun, tepatnya tujuh hari setelah hari raya Idul
Fitri. Tradisi ini hampir sama dengan budaya jawa tengah yaitu Kupatan, tempat
diadakanya tradisi bulusan adalah desa bulusan yang konon menurut cerita dahulu
ada seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus ( Kura – kura ), aneh nya tempat
itu sekarang masih banyak Kura – kura yang berkeliaran. Untuk meramaikan
tradisi ini biasanya diadakan pasar malam atau bazar.
Sumber : http://deviciptyasari.blogspot.com/2014/01/sunan-kudus-dan-strategi-dakwah-islam.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar